KENDARI – Polemik yang sempat mencuat antara Anggota DPR RI Ridwan Bae dan Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra), Andi Sumangerukka (ASR), diharapkan tidak lagi diperkeruh dengan berbagai komentar provokatif di media sosial.
Kedua tokoh publik tersebut telah memperlihatkan suasana keakraban saat bertemu dalam acara pelantikan pengurus DPD Partai Golkar Sultra di Kabupaten Kolaka, Minggu (1/11/2026).
Momen keduanya saling bersalaman, bercengkerama hingga berpelukan di hadapan para undangan menjadi gambaran bahwa perbedaan pandangan maupun kritik tidak harus berujung pada permusuhan.
Karena itu, masyarakat, khususnya para pengguna media sosial (netizen), diharapkan dapat menyikapi perkembangan tersebut secara bijak dan tidak lagi memproduksi maupun menyebarkan narasi yang berpotensi memancing konflik.
Pengamat Politik Sultra, Dr LM Bariun SH, MH mengatakan sudah saatnya seluruh elemen masyarakat bersama-sama menciptakan iklim komunikasi yang sehat, sejuk, dan kondusif di Sulawesi Tenggara.
Media sosial katanya, seharusnya dimanfaatkan sebagai ruang menyampaikan gagasan, aspirasi, serta kritik yang membangun, bukan menjadi sarana untuk saling menyerang, menyebarkan ujaran provokatif, ataupun menggiring opini yang dapat menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.
“Dalam kehidupan demokrasi, kritik terhadap pejabat publik merupakan hal yang wajar dan menjadi bagian dari kontrol masyarakat terhadap jalannya pemerintahan,” katanya, Senin (1/12026).
Tambahnya bila ada kritik perlu disampaikan dengan bahasa yang santun, beretika, dan berlandaskan fakta. Demikian pula dalam penggunaan media sosial dan platform komunikasi digital lainnya, masyarakat perlu lebih cermat memilah informasi sebelum membagikannya agar tidak menimbulkan multitafsir.
Perbedaan pendapat hendaknya dijadikan ruang untuk bertukar pikiran, memberikan edukasi, serta mendorong lahirnya gagasan konstruktif demi kemajuan daerah.
“Kebersamaan dan suasana kondusif di Sulawesi Tenggara merupakan tanggung jawab bersama. Jangan sampai polemik yang telah menunjukkan tanda-tanda mencair justru kembali memanas akibat narasi yang tidak produktif di ruang digital,” ujar LM Bariun lagi.
Kini, yang lebih penting adalah bagaimana seluruh elemen masyarakat memberikan dukungan terhadap terciptanya komunikasi yang santun dan beradab, sekaligus tetap menjaga tradisi kritis yang objektif demi pembangunan Sulawesi Tenggara yang lebih baik.
Tim Redaksi













