Kendari – Sebagai langkah taktis penanggulangan bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla), TNI Angkatan Udara bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang dipusatkan di Lanud Haluoleo, Kendari.
Operasi strategis ini difokuskan khusus untuk mengurangi dan memadamkan titik api (hotspot) yang mulai bermunculan di sejumlah wilayah di Sulawesi Tenggara akibat musim kemarau panjang.
Dalam pelaksanaannya, TNI AU mengerahkan alutsista andalannya, yakni pesawat angkut taktis CN-295, untuk menjangkau wilayah-wilayah yang berpotensi rawan karhutla.
Secara teknis, pesawat CN-295 TNI AU mengudara pada koridor ketinggian operasional antara 10.000 hingga 18.000 kaki (ft). Pada jalur penerbangan tersebut, tim penyemaian awan menaburkan bahan semai berupa Natrium Klorida (NaCl) atau garam sebanyak 2.000 kilogram ke dalam formasi awan potensial.
Penyemaian garam ini bertujuan untuk merangsang proses kondensasi agar segera terbentuk hujan buatan di atas kawasan yang menjadi konsentrasi titik api. Dengan turunnya hujan di wilayah sasaran, diharapkan kabut asap dapat ditekan, kualitas udara kembali membaik, serta sebaran api dapat segera dipadamkan secara masif.
Sinergi lintas instansi antara TNI AU, BMKG, dan BPBD Sultra ini merupakan wujud nyata kesiapsiagaan negara dalam mengantisipasi bencana ekologis, sekaligus melindungi keselamatan masyarakat serta kelestarian lingkungan di Bumi Anoa.
Tim Redaksi













