Berita

Nelayan Konawe Dilaporkan Hilang Gegara Terkendala Kabut Asap Karhutla

19
×

Nelayan Konawe Dilaporkan Hilang Gegara Terkendala Kabut Asap Karhutla

Sebarkan artikel ini

KONAWE – Seorang nelayan asal Desa Bajoe, Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara (Sultra), dilaporkan hilang setelah tidak kunjung kembali dari melaut akibat terkendala kabut asap tebal, Kamis (22/10/2026).

Nelayan bernama Ariadi (49) tersebut akhirnya ditemukan dalam keadaan selamat setelah tiba di Pelabuhan Penyeberangan Bokori pada Jumat (23/10/2026) sekitar pukul 09.00 Wita.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (KPP) Kendari, Amiruddin AS, menjelaskan bahwa berdasarkan keterangan korban, kabut asap tebal membuatnya kesulitan melihat arah haluan perahu sehingga tidak dapat kembali ke rumah sesuai rencana.

Korban kemudian tiba di Desa Kokapi, Kecamatan Sawa, Kabupaten Konawe Utara, pada Kamis sekitar pukul 17.30 Wita dan memutuskan menginap di desa tersebut.

Sebelumnya, Ariadi berangkat melaut pada Kamis sekitar pukul 08.00 Wita untuk memancing gurita di sekitar perairan Pulau Saponda Laut menggunakan perahu longboat berwarna hijau.

Sekitar pukul 13.00 Wita, korban naik ke darat untuk beristirahat bersama teman-temannya di Pulau Saponda Laut. Sekitar pukul 14.00 Wita, ia berpamitan untuk pulang.

Namun, hingga waktu yang diperkirakan, korban belum tiba di rumah. Pihak keluarga sempat melakukan pencarian secara mandiri, tetapi tidak membuahkan hasil.

Kejadian tersebut kemudian dilaporkan kepada Basarnas untuk dilakukan operasi pencarian dan pertolongan.

Setelah korban kembali dengan selamat, operasi SAR di perairan antara Pulau Saponda Laut dan Toronipa, Kecamatan Soropia, resmi dinyatakan selesai dan ditutup.

Peristiwa ini terjadi di tengah sebaran kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah Sulawesi Tenggara. Berdasarkan informasi BMKG, asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Papua Selatan dan Maluku terbawa angin hingga mencapai wilayah Sultra.

BMKG sebelumnya mengingatkan bahwa sebaran asap dapat mengurangi jarak pandang dan berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat, termasuk transportasi laut.

Pada sejumlah wilayah Sultra, jarak pandang terpantau menurun akibat kondisi udara kabur oleh asap.

Kondisi tersebut menjadi perhatian bagi nelayan yang beraktivitas di laut, terutama saat jarak pandang terbatas dan penentuan arah perjalanan menjadi lebih sulit.

BMKG mengimbau pengguna transportasi laut untuk meningkatkan kewaspadaan apabila terjadi penurunan jarak pandang secara signifikan demi menjaga keselamatan perjalanan.

Sementara itu, berdasarkan laporan Basarnas Kendari, kondisi cuaca saat pembaruan operasi SAR tercatat cerah, dengan kecepatan angin 4,6 knot dari arah timur laut dan tinggi gelombang berkisar 0,3 hingga 0,5 meter.

Tim Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *